English
  • jashherbs@gmail.com
  • Free Shipping for all Order
English

KONTROVERSI TANAMAN KRATOM

Categories

Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) tumbuh tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, Filipina, Kamboja, Vietnam, Papua Nugini dan Indonesia (Mukhlisi dkk., 2018). Kratom sedang hangat diperbincangkan karena isu kesehatan, sosial, ekonomi dan ekologi. Polemik terjadi karena di satu sisi terdapat peningkatan jumlah pengguna kratom dan nilai perdagangan dunia bertambah pesat, di sisi lain ada kekhawatiran terhadap efek samping penggunaan kratom dengan ditemukannnya beberapa kasus gangguan kesehatan. Kratom termasuk ke dalam suku Rubiaceae seperti tanaman kopi. Secara morfologi, kratom berupa tanaman pohon dengan batang lurus dan kulit batang berwarna abu kecoklatan (Secretariat, 2017). Warna tulang dan urat daun menjadi salah satu parameter pembeda, karena terdapat dua jenis warna, yaitu hijau dan coklat kemerahan (Shellard dan Lees, 1965). Kratom tumbuh subur di daerah dekat aliran sungai pada jenis tanah aluvial yang kaya bahan organik. Kratom bukan tanaman air namun mempunyai kemampuan bertahan hidup bila kondisi lahan sewaktu-waktu tergenang air. Di Kapuas Hulu, kratom banyak ditanam masyarakat di halaman, namun untuk budidaya skala luas dilakukan di kebun dan di lahan dekat sungai.

Pengkajian senyawa kimia yang terdapat dalam tanaman kratom berhasil diisolasi 57 jenis senyawa 40 diantaranya adalah golongan alkaloid dan teridentifikasi menjadi 2 golongan yakni alkaloid indol dan oksindol. Mitraginin dan 7-hidroksimitraginin termasuk dalam senyawa indol alkaloid yang menjadi senyawa utama dari tanaman kratom (Meireles dkk., 2019). Kandungan mitraginin lebih banyak ditemukan pada bagian daun dengan kadar sangat bervariasi, tergantung pada lokasi tumbuhnya. Kratom asal Thailand memiliki kandungan mitraginin sebesar 66%, Malaysia 12% dan Indonesia khususnya Kapuas Hulu sebesar 54% dari kadar total alkaloidnya (Raini, 2017). Penelitian terkait kadar 7-hidroksimitraginin belum banyak diungkapkan. Terdapat satu penelitian yang menunjukkan bahwa daun kratom asal Thailand memiliki kandungan 7-hidroksimitraginin sebesar 1,6% dari total alkaloidnya.

Senyawa lain yang sudah teridentifikasi terdapat dalam tanaman kratom antara lain, flavonoid, polifenol, triterpenoid, triterpenoid saponin, monoterpen, glukopiranosid, sitosterol, dan stigmasterol, serta daukosterol (Gogineni dkk., 2014). Kratom secara tradisional digunakan di Malaysia dan Thailand untuk mengurangi rasa nyeri, relaksasi, mengatasi diare, menurunkan panas, dan mengurangi kadar gula darah (Veltri dan Grundmann, 2019). Pengguna di Thailand menyebutkan selain memberikan efek stimulan, konsumsi kratom menghasilkan perasaan yang menyenangkan (Griffin, 2018). Di Indonesia, secara tradisional kratom digunakan untuk menambah stamina, mengatasi nyeri, rematik, asam urat, hipertensi, gejala stroke, diabetes, susah tidur, luka, diare, batuk, kolesterol, tipus, dan menambah nafsu makan (Wahyono, 2012; Wahyono, 2015). Meningkatnya pengunaan kratom di masyarakat mendorong dilakukan penelitian terhadap sisi positif dan negatif penggunaan kratom. Beberapa khasiat empiris yang telah diuji diantaranya adalah adanya efek analgetika kuat, efek sedatif, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, efek stimulan dan anti depresan, juga penggunaan pada ibu hamil dan menyusui serta potensi penyalahgunaan dan efek withdrawal (gejala putus obat). Cara pemakaian daun kratom dapat dikunyah, diseduh seperti teh, dihisap sebagai rokok, dan dicerna sebagai tablet terkompresi atau kapsul. Beberapa laporan juga menyebutkan bahwa kratom dapat digunakan sebagai pengobatan pada kasus kecanduan opioid

Penggunaan kratom umumnya dengan mengunyah, atau meremas kratom kering kemudian diseduh seperti teh. Kratom dosis rendah memberikan efek stimulan, sedangkan dosis tinggi memberikan efek sedatif. Efek tersebut disebabkan oleh senyawa mitraginin dan 7-hidroksimitraginin yang bertanggung jawab sebagai analgesik, antiinflamasi, antidepresan, psikoaktif dan opioid. Khasiat psikoaktif ini menyebabkan kratom potensial dan rawan disalahgunakan. Penyalahgunaan kratom dilaporkan mengakibatkan kejang, psikosis akut, dan kematian (Vermaire dkk., 2019). Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, pemanfaatan kratom sebagai recreational drug semakin populer di seluruh dunia. Kratom disebut oleh banyak orang sebagai produk psikoaktif aman dan legal, dapat memperbaiki suasana hati, mengurangi rasa sakit, dan memberikan manfaat dalam terapi kecanduan opiat (Warner dkk., 2016). 

Menurut Larson, 2019, pengaturan penggunaan kratom berbedabeda antar negara. Beberapa negara melarang peredaran dan penggunaan kratom, namun banyak negara yang tidak melakukan pelarangan ataupun hanya melakukan pembatasan penggunaannya. Pembatasan pengunaan dan pelarangan dilakukan dengan memasukkan tanaman kratom ke dalam kelompok tanaman narkotika, seperti di beberapa negara bagian di Amerika Serikat dan Eropa. Di kawasan Asia khususnya Asia Selatan dan Tenggara sebagian negara sudah memasukkan kratom dalam golongan narkotika. Namun akhir-akhir ini Malaysia dan Thailand sedang mengkaji ulang penggolongan tanaman kratom tersebut dalam kelompok tanaman narkotika.

Berdasarkan Surat Keputusan Kepala BPOM Nomor HK.00.05.23.3644 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengawasan Suplemen Makanan dan Surat Edaran Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Suplemen No. HK.04.4.42.421.09.16.1740 tahun 2016 tentang Pelarangan Penggunaan Mitragyna speciosa (Kratom) dalam Obat Tradisional dan Suplemen Kesehatan, daun kratom dimasukkan ke dalam bahan yang dilarang untuk produk obat tradisional dan suplemen makanan. Sejauh ini belum ada pengaturan yang melarang budidaya dan distribusi baik dalam bentuk remahan maupun serbuk kratom.

Kratom bernilai ekonomi tinggi karena permintaan ekspor sebagai obat herbal yang meningkat dalam beberapa tahun ini. Cakupan pemanfaatan akan lebih luas apabila mampu dikembangkan menjadi bahan baku obat alam nasional untuk memenuhi kebutuhan obat dalam pelayanan kesehatan. Nilai ekonomi yang diperoleh tidak sekedar dari nilai jual serbuk daun kratom. Kratom secara luas memberikan dampak ekologi seperti menambah luasan lahan hijau untuk meningkatkan simpanan karbon dalam tanah, mencegah abrasi, menjadi tempat simpanan air dalam tanah, serta mengurangi emisi gas rumah kaca. Keseluruhan hal tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi yang bermanfaat dalam perkembangan pembangunan yang berkelanjutan.

Pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan dibayangi ancaman dampak beban lingkungan dan sosial karena pengaruh perubahan iklim, berkurangnya keanekaragaman hayati dan perubahan penggunaan lahan. Indonesia ikut tergabung dalam kesepakatan global melakukan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Growth) yang didalamnya menyangkut pengimplementasian konsep ekonomi hijau. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat Kalimantan Barat sebagai sentra kratom merupakan suatu jawaban tantangan pertumbuhan ekonomi hijau. Pertumbuhan ekonomi masyarakat menunjukkan sinyal positif berupa perbaikan ekonomi petani kratom yang sebelumnya terpuruk akibat turunnya harga karet. Perubahan sosial masyarakat terjadi sebagai hasil peningkatan lapangan kerja dan penghasilan di sektor pertanian kratom dan peluang jasa yang menyertainya


  • Categories:
  • Tags: All, Trending, Cooking, Healthy Food, Life Style